saya membuat tulisan ini bukan karena saya akan segera menikah. bukan pula karena saya telah merasa punya banyak ilmu tentang pernikahan. tulisan ini hnya sebuah kado untuk ibu saya yang pada tanggal 21 februari 2007 telah menikah lagi. (Barakallahu laka wa baraka alayka wa jama'a baynakuma fii khair)
saat ini tampaknya banyak orang yang salah memaknai arti sebuah pernikahan. banyak orang yang salah dalam menjalankan sebuah bahtera pernikahan. banyak orang ang salah dalam menyusun pondasi pernikahan. mungkin semua disebabkan kesalahan paradigma yang digunakan dalam melihat pernikahan.
banyak yang memandang persamaan adalah kunci keberhasilan dalam pernikahan. banyak yang menikah karena merasa sama dengan yang akan dinikahi. banyak yang menikah karena sepemikiran dengan yang dinikahi. menikah karena sevisi dalam menjalani kehidupan. paradigma itu memang benar tapi kurang tepat. sebab sebenarnya menikah bukannya menyatukan persamaan, tetapi menyatukan beragam perbedaan untuk dapat saling melengkapi. pria baik-baik hanya untuk wanita baik-baik, dan wanita baik-baik hanya untuk pria baik-baik.
banyak yang menganggap menikah hanya untuk menyatukan dua hati. mereka menikah hanya untuk menyalurkan rasa cinta mereka. mereka tak peduli terhadap pandangan orang lain tentang pernikahan mereka. dan mereka menikah karena terdorong oleh ego dan nafsu mereka. padahal pernikahan adalah salah satu upaya perkembangbiakan manusia. pemeliharaan eksistensi manusia. eksistensi manusia yang manusia. manusia yang memiliki budaya manusia dan bertingkah sesuai fitrahnya sebagai manusia. sekaligus cara pewarisan budaya yang ada.
banyak yang menikah karena hanya ingin bisa menyalurkan birahi saja. mereka memilih menikah hanya sebagai syarat untuk melegalkan keinginan birahi mereka. mereka tidak mempersiapkan diri untuk melakukan sebuah pendidikan keluarga. mereka kurang menyiapkan diri untuk memelihara keturunan mereka. padahal menikah bukan hanya untuk itu. menikah berarti langkah untuk menguatkan keimanan. menikah pun merupakan usaha untuk saling melindungi dan menguatkan. menikah memiliki konsekuensi yang cukup berat. karena berarti setelah menikah maka akan ada tugas pembentukan generasi penerus yang lebih baik dari mereka. minimal tugas mereka adlah menjadi teladan bagi para generasi penerus mereka.
mungkin kesalahan-kesalahan paradigma tersebut yang memicu orang untuk memilih tidak menikah. mungkin pula hal itulah yang memilih orang untuk mengharamkan/ menolak poligami. mungkin fenomena kawin-cerai disebabkan kesalahan pradigma juga. mungkin itu pula yang menjadikan orang merasa aneh dengan pernikahan kedua atau lebih di usia lanjut.
menikah bukan hanya untuk menyatukanm dua hati, atau menyalurkan birahi, atau menyatukan persamaan. menikah adalah sebuah bentuk ibadah. di dalamnya ada usaha untuk saling melengkapi dan menguatkan. ada usaha pewarisan dan pelestarian budaya. ada proses edukasi untuk menciptakan generasi penerus yang lebih baik. ada hal-hal yang tentunya tak bisa diketahui jika belum menikah, meskipun telah hidup bersama.
Sunday, 25 February 2007
Sunday, 18 February 2007
mari bercita-cita untuk mati
terinspirasi oleh postingan salah seorang saudara saya, sekaligus sebagai klarifikasi dari replyan saya pada postingan tersebut, maka tulisan ini saya hadirkan untuk anda.
mati merupakan perkara yang terlihat mudah. padahal jika direnungi lebih dalam, mati merupakan hal yang sangat sulit. banyak anggapan bahwa semua makhluk hidup akan mati. kematian bisa menunggu ajal, bisa pula dengan mempercepat ajal, dengan dengan cara bunuh diri. namun, apakah orang yang mati itu memang telah mati?
sesuatu dapat dikatakan telah mati jika sebelumnya dia pernah hidup. jadi untuk mengetahui seperti apa itu mati, kita perlu tahu bagaimana agar bisa dikatakan hidup. sebab mati dan hidup adalah dwi tunggal,(ini klarifikasi terhadap replyan saya pada blog saudara saya. ada sebutan benda mati karena ada benda hidup. seandainya tak ada kematian maka tak akan ada kehidupan.
bagi manusia, hidup bukan hanya berarti dapat bergerak, tumbuh, makan dan minum, istirahat, berkembang biak dan berfikir. manusia dapat dikatakan hidup jika ia telah dapat menjalankan fitrahnya. manusia bukanlah makhluk dunia yang mempelajari ilmu langit, tetapi manusia adalah makhluk langit yang sedang mempelajari ilmu dunia.
pernahkah terpikir alasan kenapa manusia bisa hidup di dunia ini? atau lebih luas lagi, kenapa dunia ini bisa ada? apakah karena kebutulan terjadi big bang atau apapun itu? atau memang telah ada yang merencanakan untuk pembuatan kehidupan ini? jika memang ada yang merencanakan, tentunya sang perencana itu pun memiliki sesuatu terhadap manusia.
kembali ke mati. apakah kini kita telah yakin bahwa diri ini memang hidup? apakah jiwa anda telah merasa yakin kelak akan mati? apakah kelak kematian akan membuat kita mati? atau sebenarnya saat ini kita masih mati? lalu bagaimana kita akan dianggap mati saat kematiaan kita datang, jika saat ini saja kita belum pernah hidup. maka bercita-citalah untuk bisa mati, karena berarti saat ini kita harus berusaha untuk hidup, karena untuk bisa mati kita harus bisa hidup terlebih dahulu, atau maukah kita disebut sebagai makhluk mati selamanya?.
mati merupakan perkara yang terlihat mudah. padahal jika direnungi lebih dalam, mati merupakan hal yang sangat sulit. banyak anggapan bahwa semua makhluk hidup akan mati. kematian bisa menunggu ajal, bisa pula dengan mempercepat ajal, dengan dengan cara bunuh diri. namun, apakah orang yang mati itu memang telah mati?
sesuatu dapat dikatakan telah mati jika sebelumnya dia pernah hidup. jadi untuk mengetahui seperti apa itu mati, kita perlu tahu bagaimana agar bisa dikatakan hidup. sebab mati dan hidup adalah dwi tunggal,(ini klarifikasi terhadap replyan saya pada blog saudara saya. ada sebutan benda mati karena ada benda hidup. seandainya tak ada kematian maka tak akan ada kehidupan.
bagi manusia, hidup bukan hanya berarti dapat bergerak, tumbuh, makan dan minum, istirahat, berkembang biak dan berfikir. manusia dapat dikatakan hidup jika ia telah dapat menjalankan fitrahnya. manusia bukanlah makhluk dunia yang mempelajari ilmu langit, tetapi manusia adalah makhluk langit yang sedang mempelajari ilmu dunia.
pernahkah terpikir alasan kenapa manusia bisa hidup di dunia ini? atau lebih luas lagi, kenapa dunia ini bisa ada? apakah karena kebutulan terjadi big bang atau apapun itu? atau memang telah ada yang merencanakan untuk pembuatan kehidupan ini? jika memang ada yang merencanakan, tentunya sang perencana itu pun memiliki sesuatu terhadap manusia.
kembali ke mati. apakah kini kita telah yakin bahwa diri ini memang hidup? apakah jiwa anda telah merasa yakin kelak akan mati? apakah kelak kematian akan membuat kita mati? atau sebenarnya saat ini kita masih mati? lalu bagaimana kita akan dianggap mati saat kematiaan kita datang, jika saat ini saja kita belum pernah hidup. maka bercita-citalah untuk bisa mati, karena berarti saat ini kita harus berusaha untuk hidup, karena untuk bisa mati kita harus bisa hidup terlebih dahulu, atau maukah kita disebut sebagai makhluk mati selamanya?.
Sunday, 11 February 2007
Sebongkah Hati untuk Pemerintah
Beberapa waktu yang lalu saya menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halaman, sebab sejak beberapa hari sebelumnya ibu menyuruh saya untuk segera pulang. Memang sudah hampir 5 bulan saya tidak ke kampung halaman. Maklum, tangerang – bandung bukanlah jarak yang terlalu jauh, selain itu aktivitas saya sebagai mahasiswa, pengurus senat mahasiswa sekaligus pekerja paruh waktu telah menyita waktu saya untuk sekadar pulang kampung. Tapi, bahasan kali ini bukanlah tentang pulang kampung alias mudik, walaupun masih ada kaitannya sedikit.
Setelah hampir 5 bulan tidak melihat kota Tangerang, saya cukup terpesona melihat perubahan di kota Tangerang. Perbaikan fasilitas umum, renovasi bangunan sekolah, bahkan jalanan setapak di sekitar lingkungan tempat ibu saya tinggal mengalami perbaikan. Setelah saya tanya ke ibu saya yang merupakan seorang PNS, beliau menyatakan bahwa itu adalah kebijakan pemerintah daerah. selain perbaikan jalan, pemda pun memberikan secara gratis kompor gas sekaligus tabung gas kepada keluarga yang berpenghasilan 1 juta ke bawah. Hal ini semakin meyakinkan saya bahwa pemerintah memang masih memiliki kepedulian terhadap rakyatnya.
Beberapa hari sebelum pelaksanaan Ujian Asik Sekali (plesetan saya dan beberapa teman saya tentang kepanjangan UAS (Ujian Akhir Semester)) dosen mata kuliah pembangunan desa dan perkotaan memberikan tugas untuk meneliti kebijakan pemerintah di desa dalam hal pembangunan. Saat itu saya dan kelompok yang terbentuk mendapatkan tema tentang pendidikan. Hasil penelitian itu adalah pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar satu milyar per desa untuk pembangunan desa, salah satu bentuk pemanfaatan dana tersebut adalah adanya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sasaran utama program ini adalah anak-anak usia 0 – 5 tahun dari keluarga kurang mampu. Namun, pendidikan kepada orang tua pun tetap mendapat perhatian dari program ini. Hal ini bertujuan agar orang tua dapat mengetahui kebutuhan ideal dari sang anak sekaligus memotivasi anaknya yang masih balita untuk mengembangkan diri. Untuk lebih jelas tentang PAUD mungkin anda bisa mencari sendiri.
Begitu banyak program-program pemerintah yang menunjukkan masih adanya kepedulian pemerintah terhadap pencapaian tujuan negara. Sayangnya, program-program itu hanya diketahui sedikit orang karena kurang diekspose. Mungkin hal inilah yang menyebabkan banyaknya orang-orang yang tidak percaya kepada kepedulian pemerintah.
Saya sering mendengar atau membaca keinginan untuk mengganti sistem pemerintahan dengan sistem kekhilafahan. Bukannya saya tidak setuju, namun satu hal yang masih mengganjal dalam pikiran saya, sudah sedalam apa para promotor kekhilafahan memahami teknis pelaksanaan sistem khilafah? Saya sempat membaca sebuah poster yang isinya “dengan sistem khilafah permasalahan iran dan lapindo akan selesai”, karena penasaran saya pun bertanya ke orang yang terlibat dalam pembuatan poster itu, mengenai cara pemecahan permasalahan dengan sistem khilafah. Sayangnya jawaban orang tersebut adalah “perlu kajian untuk membahas hal itu”. Saya sungguh kecewa dengan sikap seperti itu. Sudah dua pertanyaan saya yang bertujuan untuk melihat sudah sesiap apa promotor sistem khilafah yang belum mendapat jawaban. Seandainya saja yang bertanya adalah orang yang anti pati terhadap sistem khilafah, kemungkinan respon yang didapat adalah penjelekkan para promotor kekhilafahan. Memang saya tidak bisa menilai kesiapan para promotor hanya dari sebagian kecil promotor yang ada disekitar saya, karena kita tidak bisa menggeneralisasikan sesuatu hanya dari sampel yang sangat kecil dan tidak representatif. Namun, setidaknya kejadian di atas bisa menjadi image buruk bagi promotor secara umum. Seandainya anda adalah salah seorang yang sering mempromosikan sistem khilafah untuk mengganti sistem pemerintahan yang sudah ada, cobalah anda berkunjung ke sini. Cobalah pecahkan masalah yang diajukan.
Tulisan ini hanya ingin menunjukkan bahwa, pemerintah masih punya kepedulian terhadap rakyatnya. Mengurus sebuah negara merupakan hal yang sangat sulit dan rumit. Begitu banyak masalah yang harus dipecahkan, begitu banyak masalah yang muncul kepermukaan. Bahkan bagi Indonesia intervensi asing masih menjadi kendala bagi pemerintah untuk bisa menjaga kestabilan dan kemandirian pemerintahan.
Imam Hasanal-Banna pernah mengatakan “Kewajiban yang ada lebih banyak daripada waktu yang tersedia”. Hal itu pula yang dialami pemerintah saat ini. Maka sebagai penduduk yang baik, sudah selayaknyalah kita membantu pemerintah dengan tidak menimbulkan masalah dan memberikan dukungan kepada pemerintah dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ada. Tentu nya hal itu tetap diringi dengan kewaspadaan kita terhadap penyimpangan oknum-oknum pemerintah yang dapat memperburuk image pemerintah dan merugikan kita dan orang lain.
Setelah hampir 5 bulan tidak melihat kota Tangerang, saya cukup terpesona melihat perubahan di kota Tangerang. Perbaikan fasilitas umum, renovasi bangunan sekolah, bahkan jalanan setapak di sekitar lingkungan tempat ibu saya tinggal mengalami perbaikan. Setelah saya tanya ke ibu saya yang merupakan seorang PNS, beliau menyatakan bahwa itu adalah kebijakan pemerintah daerah. selain perbaikan jalan, pemda pun memberikan secara gratis kompor gas sekaligus tabung gas kepada keluarga yang berpenghasilan 1 juta ke bawah. Hal ini semakin meyakinkan saya bahwa pemerintah memang masih memiliki kepedulian terhadap rakyatnya.
Beberapa hari sebelum pelaksanaan Ujian Asik Sekali (plesetan saya dan beberapa teman saya tentang kepanjangan UAS (Ujian Akhir Semester)) dosen mata kuliah pembangunan desa dan perkotaan memberikan tugas untuk meneliti kebijakan pemerintah di desa dalam hal pembangunan. Saat itu saya dan kelompok yang terbentuk mendapatkan tema tentang pendidikan. Hasil penelitian itu adalah pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar satu milyar per desa untuk pembangunan desa, salah satu bentuk pemanfaatan dana tersebut adalah adanya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sasaran utama program ini adalah anak-anak usia 0 – 5 tahun dari keluarga kurang mampu. Namun, pendidikan kepada orang tua pun tetap mendapat perhatian dari program ini. Hal ini bertujuan agar orang tua dapat mengetahui kebutuhan ideal dari sang anak sekaligus memotivasi anaknya yang masih balita untuk mengembangkan diri. Untuk lebih jelas tentang PAUD mungkin anda bisa mencari sendiri.
Begitu banyak program-program pemerintah yang menunjukkan masih adanya kepedulian pemerintah terhadap pencapaian tujuan negara. Sayangnya, program-program itu hanya diketahui sedikit orang karena kurang diekspose. Mungkin hal inilah yang menyebabkan banyaknya orang-orang yang tidak percaya kepada kepedulian pemerintah.
Saya sering mendengar atau membaca keinginan untuk mengganti sistem pemerintahan dengan sistem kekhilafahan. Bukannya saya tidak setuju, namun satu hal yang masih mengganjal dalam pikiran saya, sudah sedalam apa para promotor kekhilafahan memahami teknis pelaksanaan sistem khilafah? Saya sempat membaca sebuah poster yang isinya “dengan sistem khilafah permasalahan iran dan lapindo akan selesai”, karena penasaran saya pun bertanya ke orang yang terlibat dalam pembuatan poster itu, mengenai cara pemecahan permasalahan dengan sistem khilafah. Sayangnya jawaban orang tersebut adalah “perlu kajian untuk membahas hal itu”. Saya sungguh kecewa dengan sikap seperti itu. Sudah dua pertanyaan saya yang bertujuan untuk melihat sudah sesiap apa promotor sistem khilafah yang belum mendapat jawaban. Seandainya saja yang bertanya adalah orang yang anti pati terhadap sistem khilafah, kemungkinan respon yang didapat adalah penjelekkan para promotor kekhilafahan. Memang saya tidak bisa menilai kesiapan para promotor hanya dari sebagian kecil promotor yang ada disekitar saya, karena kita tidak bisa menggeneralisasikan sesuatu hanya dari sampel yang sangat kecil dan tidak representatif. Namun, setidaknya kejadian di atas bisa menjadi image buruk bagi promotor secara umum. Seandainya anda adalah salah seorang yang sering mempromosikan sistem khilafah untuk mengganti sistem pemerintahan yang sudah ada, cobalah anda berkunjung ke sini. Cobalah pecahkan masalah yang diajukan.
Tulisan ini hanya ingin menunjukkan bahwa, pemerintah masih punya kepedulian terhadap rakyatnya. Mengurus sebuah negara merupakan hal yang sangat sulit dan rumit. Begitu banyak masalah yang harus dipecahkan, begitu banyak masalah yang muncul kepermukaan. Bahkan bagi Indonesia intervensi asing masih menjadi kendala bagi pemerintah untuk bisa menjaga kestabilan dan kemandirian pemerintahan.
Imam Hasanal-Banna pernah mengatakan “Kewajiban yang ada lebih banyak daripada waktu yang tersedia”. Hal itu pula yang dialami pemerintah saat ini. Maka sebagai penduduk yang baik, sudah selayaknyalah kita membantu pemerintah dengan tidak menimbulkan masalah dan memberikan dukungan kepada pemerintah dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ada. Tentu nya hal itu tetap diringi dengan kewaspadaan kita terhadap penyimpangan oknum-oknum pemerintah yang dapat memperburuk image pemerintah dan merugikan kita dan orang lain.
Sunday, 28 January 2007
cerpen: saat aku ujian
terdengar bunyi alaram jam di kostan yang saya setting pada pukul satu siang. artinya 15 menit lagi saya harus masuk ke kelas untuk ikut Ujian Akhir Smester mata kuliah Sistem Keuangan Pusat dan Daerah. malas rasanya untuk beranjak dari tempat tidur, sebab sudah 3 hari ini gigi saya sakit. demi menjaga kepercayaan dari orang tua yang rela mengirim saya ke luar kota untuk kuliah, saya pun berusaha mengalahkan rasa malas dan sakit untuk ke kampus. rasa kantuk yang terus menyerang karena kurang tidur, ditambah rasa sakit di gusi membuat rasa malas saya kian bertambah, namun semua itu dapat dikalahkan dengan keinginan untuk menjaga kepercayaan orang tua.
di jalan ternyata sedang gerimis. saya pun mengenakan jaket untuk menutupi kemeja putih sebagai seragam ujian agar tidak terlalu basah. tenyata kost di belakang kampus menjadi keuntungan penting di saat seperti ini. setelah sedikit berbasah ria dengan gerimis akhirnya saya pun sampai di tempat berkumpulnya teman-teman sekelas. ada yang sedang membaca buku tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. ada yang membaca hand out yang diberikan saat kuliah. ada pula yang membaca catatan-catatan kuliah. saya hanya duduk termenung di salah satu bangku kosong di dekat situ, karena selain jarang masuk kuliah, rasa sakit dan kantuk pun masih setia menemani.
akhirnya, jam tangan pun menunjukkan pukul satu siang lewat 15 menit, teman-teman pun masuk ke kelas. bangku yang di duduki pertama adalah yang dianggap paling strategis yaitu di bagian kelas paling belakang dan pojok. saya duduk di bangku yang ada pada deretan terakhir bagian tengah. tak lama sang pengawas pun datang. dia membagikan soal dan lembar jawaban.
selesai sang pengawas membagikan lembar jawaban dan soal dan duduk di kelas bagian paling depan dan meghadap kami, ujian pun dimulai. awalnya kelas begitu sepi, semua seakan merenungi pertanyaan-pertanyaan yang ada pada soal, saya pun saat itu hanya dapat membaca soal, sebab pertanyaan yang diberikan benar-benar tidak ada dalam perkiraan saya. beberapa saat kemudian, terdengarlah bunyi yang saya yakini berasal dari handphone. saya pun melihat ke sumber bunyi. bukan orang mengangkat handphone yang saya lihat, tetapi teman di sebelah kanan saya yang sedang melihat kertas kecil yang ada di atas lembr jawabannya. saya pun melihat orang di depan saya sedang membaca makalah yang diselipkan diantara soal dan lembar jawaban. sedangkan di sebelah kiri saya, yang berada di pojok ruangan, sedang asik membaca buku tentang Keuangan Daerah. sakit saya pun hilang digantikan rasa ingin tertawa yang saya redam dengan tersenyum. saya perhatikan teman-teman saya yang lain, ternyata mereka pun sedang asik membaca kertas-kertas serupa, bahkan ada yang sedang diskusi dengan teman sebelah atau depan dan belakangnya. saya alihkan pandangan ke tempat sang pengawas berada, ternyata dia sedang tekun mengawasi langit-langit. saya hanya kembali tersenyum. saya sendiri bingung dengan arti senyum ini. senyum karena senangkah? senyum akibat sedihkah? saya hanya tahu, bahwa saat ini rasa sakit dan kantuk saya tergantikan dengan rasa ingin tertawa.
ujian telah berjalan selama setengah jam. sang pengawas sudah tak mengawasi langit-langit lagi, tetapi membaca buku. saya masih hanya bisa merenungi soal-soal yang ada. sang pengawas pun berdiri dan berkata "maaf saya ijin keluar sebentar ya", kemudian dia keluar kelas, dan kelas pun menjadi kian bebas membaca catatan, berdiskusi dan hal-hal lain yang dianggap perlu untuk menjawab soal ujian. sang pengawas pun akhirnya kembali ke dalam kelas. saya pun maju ke depan kelas dan menyerahkan lembar jawaban dengan tersenyum puas walaupun diri ini ingin tertawa. setelah sampai di ruang senat mahasiswa, saya pun tertawa terbahak-bahak.
---tamat---
jangan bingung kenapa saya memosting cerpen di blog ini. ini adalah salah satu paradigma dalam penyampaian opini dan wacana. silakan direnungkan
di jalan ternyata sedang gerimis. saya pun mengenakan jaket untuk menutupi kemeja putih sebagai seragam ujian agar tidak terlalu basah. tenyata kost di belakang kampus menjadi keuntungan penting di saat seperti ini. setelah sedikit berbasah ria dengan gerimis akhirnya saya pun sampai di tempat berkumpulnya teman-teman sekelas. ada yang sedang membaca buku tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. ada yang membaca hand out yang diberikan saat kuliah. ada pula yang membaca catatan-catatan kuliah. saya hanya duduk termenung di salah satu bangku kosong di dekat situ, karena selain jarang masuk kuliah, rasa sakit dan kantuk pun masih setia menemani.
akhirnya, jam tangan pun menunjukkan pukul satu siang lewat 15 menit, teman-teman pun masuk ke kelas. bangku yang di duduki pertama adalah yang dianggap paling strategis yaitu di bagian kelas paling belakang dan pojok. saya duduk di bangku yang ada pada deretan terakhir bagian tengah. tak lama sang pengawas pun datang. dia membagikan soal dan lembar jawaban.
selesai sang pengawas membagikan lembar jawaban dan soal dan duduk di kelas bagian paling depan dan meghadap kami, ujian pun dimulai. awalnya kelas begitu sepi, semua seakan merenungi pertanyaan-pertanyaan yang ada pada soal, saya pun saat itu hanya dapat membaca soal, sebab pertanyaan yang diberikan benar-benar tidak ada dalam perkiraan saya. beberapa saat kemudian, terdengarlah bunyi yang saya yakini berasal dari handphone. saya pun melihat ke sumber bunyi. bukan orang mengangkat handphone yang saya lihat, tetapi teman di sebelah kanan saya yang sedang melihat kertas kecil yang ada di atas lembr jawabannya. saya pun melihat orang di depan saya sedang membaca makalah yang diselipkan diantara soal dan lembar jawaban. sedangkan di sebelah kiri saya, yang berada di pojok ruangan, sedang asik membaca buku tentang Keuangan Daerah. sakit saya pun hilang digantikan rasa ingin tertawa yang saya redam dengan tersenyum. saya perhatikan teman-teman saya yang lain, ternyata mereka pun sedang asik membaca kertas-kertas serupa, bahkan ada yang sedang diskusi dengan teman sebelah atau depan dan belakangnya. saya alihkan pandangan ke tempat sang pengawas berada, ternyata dia sedang tekun mengawasi langit-langit. saya hanya kembali tersenyum. saya sendiri bingung dengan arti senyum ini. senyum karena senangkah? senyum akibat sedihkah? saya hanya tahu, bahwa saat ini rasa sakit dan kantuk saya tergantikan dengan rasa ingin tertawa.
ujian telah berjalan selama setengah jam. sang pengawas sudah tak mengawasi langit-langit lagi, tetapi membaca buku. saya masih hanya bisa merenungi soal-soal yang ada. sang pengawas pun berdiri dan berkata "maaf saya ijin keluar sebentar ya", kemudian dia keluar kelas, dan kelas pun menjadi kian bebas membaca catatan, berdiskusi dan hal-hal lain yang dianggap perlu untuk menjawab soal ujian. sang pengawas pun akhirnya kembali ke dalam kelas. saya pun maju ke depan kelas dan menyerahkan lembar jawaban dengan tersenyum puas walaupun diri ini ingin tertawa. setelah sampai di ruang senat mahasiswa, saya pun tertawa terbahak-bahak.
---tamat---
jangan bingung kenapa saya memosting cerpen di blog ini. ini adalah salah satu paradigma dalam penyampaian opini dan wacana. silakan direnungkan
Sunday, 21 January 2007
kata-kata sang hati
robb...
telah sering ku melanggar laranganMu
telah banyak kumeninggalkan perintahMu
banyak dosa yang ku kumpulkan namun bagitu sedikit pahala yang kusimpan
robb...
begitu banyak hati yang ku kecewakan
begitu sering ku menabur dendam
sangat sedikit senyum yang ku tuai
sangat kurang terasa bantuan ku bagi kehidupan sahabat-sahabatku
robb...
jiwa ini telah kian rapuh
orak ini telah kian rusak
hati ini telah kian busuk
diri ini telah kian gersang
robb...
sering ku menatap keindahan ciptaanMu yang bernama wanita
dan hampir sesering itu pula aku terpesona kepada mereka
namun keterpesonaan itu sering terkotori oleh nafsu syahwatku
seiring dengan itu kecintaanku kepadaMu pun memudar
robb...
betapa kian banyak dosa yang kulakukan
betapa banyak lahan pahala yang ku sia-siakan
sayangnya hal itu diimbangi kemalasan ku menanam pahala
serta kegemaranku menabur dendam
robb...
hati yang dulu ku bekukan, kini telah kian mencair
akibatnya kontaminasi pun terjadi di sebagian hati ku
kini hal itu telah mulai merambat ke segala kehidupan ku
bahkan dalam ibadah kepadaMu
robb...
malam-malam ku pun kini hanya untuk kenikmatan dunia
sunah-sunah kekasihMu telah lama ku lupa
banyak alasan yang kusimpan untuk sekadar pembenaran diri
melepas rasa bersalah yang sebenarnya tetap tersembunyi
robb...
jadikanlah aku sebagai muslim yang lebih hanif lagi
jadikanlah aku sebagai manusia yang memiliki semangat jihad yang besar
jadikanlah hati ku sehat kembali, dan bekukanlah lagi dia
jadikanlah otak ku bersih kembali, dan jagalah dia
jadikanlah tubuh ku kuat kembali, dan peliharalah dia
robb...
jadikanlah aku sebagai manusia yang lebih dewasa
manusia yang tahu akan fitrahnya
mampu menjalankan amanah yang kau tetapkan
dan menjadi salah satu jundi Mu
serta penyiap jundi-jundi Mu
telah sering ku melanggar laranganMu
telah banyak kumeninggalkan perintahMu
banyak dosa yang ku kumpulkan namun bagitu sedikit pahala yang kusimpan
robb...
begitu banyak hati yang ku kecewakan
begitu sering ku menabur dendam
sangat sedikit senyum yang ku tuai
sangat kurang terasa bantuan ku bagi kehidupan sahabat-sahabatku
robb...
jiwa ini telah kian rapuh
orak ini telah kian rusak
hati ini telah kian busuk
diri ini telah kian gersang
robb...
sering ku menatap keindahan ciptaanMu yang bernama wanita
dan hampir sesering itu pula aku terpesona kepada mereka
namun keterpesonaan itu sering terkotori oleh nafsu syahwatku
seiring dengan itu kecintaanku kepadaMu pun memudar
robb...
betapa kian banyak dosa yang kulakukan
betapa banyak lahan pahala yang ku sia-siakan
sayangnya hal itu diimbangi kemalasan ku menanam pahala
serta kegemaranku menabur dendam
robb...
hati yang dulu ku bekukan, kini telah kian mencair
akibatnya kontaminasi pun terjadi di sebagian hati ku
kini hal itu telah mulai merambat ke segala kehidupan ku
bahkan dalam ibadah kepadaMu
robb...
malam-malam ku pun kini hanya untuk kenikmatan dunia
sunah-sunah kekasihMu telah lama ku lupa
banyak alasan yang kusimpan untuk sekadar pembenaran diri
melepas rasa bersalah yang sebenarnya tetap tersembunyi
robb...
jadikanlah aku sebagai muslim yang lebih hanif lagi
jadikanlah aku sebagai manusia yang memiliki semangat jihad yang besar
jadikanlah hati ku sehat kembali, dan bekukanlah lagi dia
jadikanlah otak ku bersih kembali, dan jagalah dia
jadikanlah tubuh ku kuat kembali, dan peliharalah dia
robb...
jadikanlah aku sebagai manusia yang lebih dewasa
manusia yang tahu akan fitrahnya
mampu menjalankan amanah yang kau tetapkan
dan menjadi salah satu jundi Mu
serta penyiap jundi-jundi Mu
Sunday, 7 January 2007
hanya sebuah tulisan
apakah anda merasa nyaman dengan keadaan anda sekarang? apakah anda merasa biasa-biasa saja dengan alur cerita kehidupan saat ini? apakah tidak ada rasa gemas saat melihat pola pergaulan yang ada? atau pernahkah anda merasa bahwa anda sedang hidup saat ini?
soal-soal di atas tidak akan keluar dalam Ujian Akhir Nasional atau Ujian Akhir Smester. tapi setidaknya pertanyaan tersebut dapat menjadi stimulus untuk merangsang otak anda untuk berpikir. gunanya agar anda dapat merasakan hidup yang sebenarnya. resikonya, anda akan mulai berjalan keluar dari goa-kenyamanan yang sebenarnya hanya menawarkan senyamanan yang bukan sesungguhnya. di luar goa itu anda akan menemukan beragam tantangan. beragam bahaya. beragam rasa. anda akan sulit untuk merasa nyaman, bahkan hanya untuk rasa aman pun tidak ada yang dapat menjaminnya. namun dengan berjalan ke luar, anda akan menemukan arti dari kehidupan itu. anda akan mendapat gambaran sesugguhnya tentang siapa anda. klimaksnya, anda akan menjadi manusia yang sesuai dengan fitrah dari Nya.
pertanyaan-pertanyaan di atas akan memiliki cabang-cabang pertanyaan lanjutan. beberapa dari pertanyaan turunan ini akan membawa anda membentuk atau menemukan pada pola pikir/ paradigma/ konsep hidup anda. inti beberapa pertanyaan-pertanyaan turunan yang bertujuan untuk mengenal, menemukan atau membentuk cara anda menjalani hidup adalah :
dalam tulisan ini saya hanya ingin mengajak anda berpikir. saya hanya ingin mengajak anda melihat dunia yang sesungguhnya, bukan dunia pantulan yang terlihat pada dinding goa-kenyamanan, akibat dari pantulan cahaya dunia yang sesungguhnya. memang gambaran dunia semu itu cukup indah, namun apa artinya keindahan jika kita hanya dapat melihatnya? mengapa kita hanya melihat, jika sebenarnya kita dapat menyentuhnya, bahkan menjadi bagian darinya.
soal-soal di atas tidak akan keluar dalam Ujian Akhir Nasional atau Ujian Akhir Smester. tapi setidaknya pertanyaan tersebut dapat menjadi stimulus untuk merangsang otak anda untuk berpikir. gunanya agar anda dapat merasakan hidup yang sebenarnya. resikonya, anda akan mulai berjalan keluar dari goa-kenyamanan yang sebenarnya hanya menawarkan senyamanan yang bukan sesungguhnya. di luar goa itu anda akan menemukan beragam tantangan. beragam bahaya. beragam rasa. anda akan sulit untuk merasa nyaman, bahkan hanya untuk rasa aman pun tidak ada yang dapat menjaminnya. namun dengan berjalan ke luar, anda akan menemukan arti dari kehidupan itu. anda akan mendapat gambaran sesugguhnya tentang siapa anda. klimaksnya, anda akan menjadi manusia yang sesuai dengan fitrah dari Nya.
pertanyaan-pertanyaan di atas akan memiliki cabang-cabang pertanyaan lanjutan. beberapa dari pertanyaan turunan ini akan membawa anda membentuk atau menemukan pada pola pikir/ paradigma/ konsep hidup anda. inti beberapa pertanyaan-pertanyaan turunan yang bertujuan untuk mengenal, menemukan atau membentuk cara anda menjalani hidup adalah :
- hedonisme
- anti kemampanan
- religius
- individualis
- all truis
- sekuler
dalam tulisan ini saya hanya ingin mengajak anda berpikir. saya hanya ingin mengajak anda melihat dunia yang sesungguhnya, bukan dunia pantulan yang terlihat pada dinding goa-kenyamanan, akibat dari pantulan cahaya dunia yang sesungguhnya. memang gambaran dunia semu itu cukup indah, namun apa artinya keindahan jika kita hanya dapat melihatnya? mengapa kita hanya melihat, jika sebenarnya kita dapat menyentuhnya, bahkan menjadi bagian darinya.
Sunday, 31 December 2006
curhat akhir tahun versi dunia
ketika diawal tahun, begitu banyak rencana-rencana di kepala. baik itu rencana kegiatan yang akan dilakukan. rencana perubahan kehidupan sosial. rencana usaha-usaha pengembangan diri. rancangan strategi pencapaian hasil studi. bahkan rancangan targetan masa 10 tahun ke depan pun sempat dikoreksi agar sesuai dengan perkembangan yang ada, namun mulai muncul beragam masalah
begitu banyak rencana-rencana yang tak tercapai. begitu banyak kegiatan-kegiatan yang tak jadi dilaksanakan. usaha pengembangan diri pun tidak mencapai target yang diinginkan. strategi untuk studi pun menjadi kacau balau. keeksisan hubungan sosial, tak dapat diharapkan. dan yang paling parah... rencana nikah yang terpaksa harus ditunda.
di tahun ini, akhirnya saya kembali menjadi operator warnet, setelah sebelumnya warnet tempat saya bekerja mengalami kebangkrutan. di warnet yang baru ini saya merasa lebih nyaman. selain karena sang boss yang sangat baik (kadang suka nraktir saya makan dan minum di rumah makan milik orang tuanya) beliau juga ga terlalu keras terhadap peraturan. hubungannya dengan operator yang lainnya pun cukup akrab. sayangnya saya malah memanfaatkan kebaikannya itu demi kepentingan saya sendiri. saya pun merasa tidak optimal dalam menjalankan tugas. masih terbawa perasaan ketika bekerja.
di tahun ini juga, saya kembali gagal dalam mencapai target perbaikan diri. masih begitu banyak kebiasaan-kebiasaan jelek yang dilakukan. dan sayangnya saya masih melakukan pembenaran terhadap hal itu. kebiasaan paling utama adalah, menunda (dengan alasan "terkadang kita perlu menunda yang baik untuk mendapatkan yang terbaik"), malas, malu, menutup diri, terbawa perasaan, lebih banyak bicara dan merencana tanpa melakukan, dan menyepelekan hal yang sepele.
di tahun ini pula nilai-nilai mata kuliah saya semakin turun. kuliah sering tidak masuk. tidak memperhatikan informasi yang disampaikan dosen. dan masih banyak hal-hal akademis yang saya tinggalkan.
di tahun ini pun saya kembali gagal dalam menyelesaikan buku Dunia Transparan dan cerpen Gw Emang Jagoan. padahal sudah lebih dari 2 tahun konsep itu diendapkan. rencana pergi bersilaturahim ke rumah uyut yang ada di dekat kostan pun kembali tak terlaksana, dan kini uyut saya sudah meninggal.
semoga di tahun depan saya dapat mencapai targetan-targetan yang akan saya rencanakan. semoga di tahun depan semakin banyak rencana yang dapat saya selesaikan. semoga di tahun depan semuanya dapat menjadi lebih baik
begitu banyak rencana-rencana yang tak tercapai. begitu banyak kegiatan-kegiatan yang tak jadi dilaksanakan. usaha pengembangan diri pun tidak mencapai target yang diinginkan. strategi untuk studi pun menjadi kacau balau. keeksisan hubungan sosial, tak dapat diharapkan. dan yang paling parah... rencana nikah yang terpaksa harus ditunda.
di tahun ini, akhirnya saya kembali menjadi operator warnet, setelah sebelumnya warnet tempat saya bekerja mengalami kebangkrutan. di warnet yang baru ini saya merasa lebih nyaman. selain karena sang boss yang sangat baik (kadang suka nraktir saya makan dan minum di rumah makan milik orang tuanya) beliau juga ga terlalu keras terhadap peraturan. hubungannya dengan operator yang lainnya pun cukup akrab. sayangnya saya malah memanfaatkan kebaikannya itu demi kepentingan saya sendiri. saya pun merasa tidak optimal dalam menjalankan tugas. masih terbawa perasaan ketika bekerja.
di tahun ini juga, saya kembali gagal dalam mencapai target perbaikan diri. masih begitu banyak kebiasaan-kebiasaan jelek yang dilakukan. dan sayangnya saya masih melakukan pembenaran terhadap hal itu. kebiasaan paling utama adalah, menunda (dengan alasan "terkadang kita perlu menunda yang baik untuk mendapatkan yang terbaik"), malas, malu, menutup diri, terbawa perasaan, lebih banyak bicara dan merencana tanpa melakukan, dan menyepelekan hal yang sepele.
di tahun ini pula nilai-nilai mata kuliah saya semakin turun. kuliah sering tidak masuk. tidak memperhatikan informasi yang disampaikan dosen. dan masih banyak hal-hal akademis yang saya tinggalkan.
di tahun ini pun saya kembali gagal dalam menyelesaikan buku Dunia Transparan dan cerpen Gw Emang Jagoan. padahal sudah lebih dari 2 tahun konsep itu diendapkan. rencana pergi bersilaturahim ke rumah uyut yang ada di dekat kostan pun kembali tak terlaksana, dan kini uyut saya sudah meninggal.
semoga di tahun depan saya dapat mencapai targetan-targetan yang akan saya rencanakan. semoga di tahun depan semakin banyak rencana yang dapat saya selesaikan. semoga di tahun depan semuanya dapat menjadi lebih baik
Subscribe to:
Posts (Atom)